Anngkringan Tombo Kangen Jogja

KOMPAS.com- Angkringan, berasal dari bahasa Jawa yang berarti duduk santai, adalah sebuah gerobak dorong yang menjual aneka makanan dan minuman yang biasa terdapat di setiap pinggir ruas jalan di Jawa Tengah dan Yogyakarta. 

Di Solo, angkringan semacam itu dikenal dengan nama warung hik (yang artinya hidangan istimewa ala kampung). Dulu, mereka memikul dagangannya dan berkeliling. Di Yogyakarta, banyak mahasiswa yang suka nongkrong, maka jadilah bernama atau disebut angkringan.

Gerobak angkringan biasanya ditutupi dengan kain terpal plastik dan bisa memuat sekitar delapan orang pembeli. Ada juga yang menambah tempat dengan menggelar karpet plastik atau tikar sebagai alasnya dan ada meja pendek untuk tempat menaruh pesanan para pelanggan. Dan, orang-orang pun bisa menikmati makanan dan minuman dengan santai secara lesehan.

Angkringan Mampir yang berada di Jalan Sawangan Raya, Depok itu mulai beroperasi pada sore hari hingga tengah malam. Mengandalkan lampu petromax atau lampu sentir. Tonny Subagyo dan dua asistennya melayani permintaan pelanggan.

Makanan yang dijual meliputi nasi kucing, gorengan, sate usus ayam, sate telur puyuh, sate bakso, kepala ayam, tahu, dan tempe bacem. Bahkan, ada yang dimodifikasi seperti mendoan dan tahu obong. Keduanya diolah dengan cara yang sama, tempenya dicelupkan ke dalam tepung lalu digoreng tidak terlalu kering dan setelah matang kemudian dimasukkan ke maam bumbu bacem dan dibakar.

Tahu pun demikian, hanya tidak perlu diberi tepung. Aroma bakaran menambah nikmat makanan tersebut dan paling enak dimakan saat panas.

Sementara itu, nasi kucingnya dibungkus dengan daun pisang. Ukurannya tidak terlalu banyak. Mungkin sekitar empat sendok makan. Diberi lauk secuil bandeng goreng atau teri kacang dan ditambah dengan tumis tempe, serta sambal. Sebungkusnya hanya Rp 2.000.

Yang istimewa di angkringan ini adalah menu puyuh bakar. Bisa dibilang lauk yang satu ini jarang kita temui di wilayah Jakarta dan sekitarnya. Tapi di Angknngan Mampir itu, Anda akan bisa menikmati lezatnya daging burung puyuh yang langsung “diimpor” dari Yogyakarta.

Dagingnya cukup empuk, tetapi berhubung ukuran burung ini tidak terlalu besar, jadi ya lebih banyak menggerogoti tulang-tulangnya. Enaknya sih puyuh dimakan begitu saja tanpa nasi. Di angkringan itu Anda bisa menikmati satu ekor puyuh, bakmi, nasi, sambal, dan lalapan hanya Rp 12.000.

“Kita minta dikirim sekaligus untuk persediaan sebulan. Bisa menjadi sekitar 300 ekor. Lumayan sih penjualannya, meski juga belum bisa dilihat fluktuasinya, kadang sehari bisa menjual 20 ekor,” kata ayah dua anak itu.

Minuman yang dijual pun beraneka macam seperti teh, kopi, jeruk, wedang jahe, wedang ronde, gula asam, susu. Bisa dinikmati hangat atau ditambah es batu.

Tersedia juga bir pletok. Minuman ini memang bukan khas Yogyakarta, melainkan dari Betawi. Walau begitu minuman ini mendapat hati dari para pelanggannya.

“Awalnya saya tidak begitu yakin apakah minuman ini akan laku terjual. Tapi berhubung kami berjualan di daerah Depok yang masih banyak orang Betawinya, jadinya pada suka deh,” kata pria yang saat ini masih bekerja di sebuah perusahaan periklanan ternama di Jakarta itu.

Umuk urusan minuman, sang istri yang meramu sendiri. Terutama untuk bir pletok dan gula asam. Minuman itu sangat bermafaat untuk menghangatkan badan. Harga segelas bir pletok dan es gula asam Rp 4.000.

Untuk rapat

Meski harganya murah, namun konsumen warung ini sangat bervariasi. Mulai dari keluarga, mahasiswa, bahkan juga dari kalangan eksekutif. Angkringan juga terkenal sebagai tempat yang egaliter karena bervariasinya pembeli yang datang tanpa membedakan strata sosial. Mereka menikmati makanan sambil bebas ngobrol hingga larut malam. Meskipun kadang tak kenal, tentang berbagai hal atau kadang berdiskusi tentang topik-topik yang serius.

Harganya yang murah dan tempatnya yang santai membuat angkringan sangat populer di tengah kota sebagai tempat persinggahan untuk mengusir lapar atau sekadar melepas lelah.

Hanya, kendalanya kalau sedang hujan turun. Meski sudah dinaungi tenda, tetap saja airnya tampias atau mengenai tikar. “Yah beginilah nasibnya angkringan lesehan. Kalau hujan pada buyar semua, tapi sehabis itu malah tempatnya jadi ramai karena orang mencari yang hangat-hangat,” kata Tonny.

Pada akhir pekan, menurut Tonny, biasanya para komunitas bikers sering mengadakan rapat dengan para anggotanya hingga larut malam. Komunitas itu bisa berjam-jam kumpul di tempat tersebut.

Keinginan untuk membuat angkringan karena dirinya yang suka jajan makanan. Pria ash Solo ini jarang melihat adanya angkringan yang mirip dengan daerah asalnya.

Untuk itu dirinya memberanikan diri membuka angkringan tidak jauh dari tempat tinggalnya di Sawangan. Semoga saja angkringan ini bisa mengobati rasa kangen. Tidak perlu harus pergi atau pulang kampung ke Yogyakarta atau Solo. (dam

Posted by Herlambang Anton B

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: