Keramahan di Tengah Duka Merapi

Satu pekan sebelum letusan Gunung Merapi, wajah ramah Yu Rejo masih menawarkan wedang gedang seharga Rp 2.000 per gelas di kawasan wisata Kaliadem. Bertemu kembali dengan Yu Rejo di barak pengungsian dua pekan setelah letusan pertama Gunung Merapi, wajah ramah Yu Rejo sama sekali tak berubah.

Kepada tamu yang mengunjungi lokasi pengungsian di Balai Desa Sariharjo, Ngaglik, Sleman, Yu Rejo segera menuangkan segelas teh panas dan roti kering sebagai suguhan. Bolak-balik, ia pun turut menyiapkan makanan bagi pengungsi lain di dapur umum. ”Yang kurang ya tidak ada wedang gedangnya itu,” kata Yu Rejo sambil tertawa, Selasa (9/11).

Berbeda dengan pengungsi di barak pengungsian lain yang masih bisa pulang ke rumah masing-masing tiap pagi, pengungsi dari Dusun Kaliadem ini harus tinggal di Balai Desa Sariharjo sepanjang hari. Rumah mereka telah luluh lantak diterjang awan panas dari sejak letusan pertama. Yu Rejo bahkan belum berani menengok kondisi rumahnya hingga kini.

Agar tidak stres, setiap pengungsi turut terlibat dalam semua kegiatan di barak pengungsian. Tiap kali bantuan tiba, mereka segera bahu-membahu membagikannya. Kebersihan lingkungan juga dipelihara bersama. Sebagian pengungsi turut ronda menjaga keamanan desa dari potensi luapan lahar dingin dari Kali Boyong.

Selama masa hidupnya, Yu Rejo telah empat kali mengalami masa mengungsi. Yu Rejo mengaku baru kali ini mengungsi pada jarak yang sangat jauh, yaitu 21 kilometer dari puncak Merapi. Kini, Yu Rejo dan sekitar 500 tetangga satu dusunnya telah berpindah barak pengungsian hingga empat kali.

Bantuan pangan di lokasi pengungsian, menurut pengungsi lainnya, Sokiran, cukup memadai. Namun, para pengungsi mengeluhkan minimnya bantuan jangka panjang seperti selimut dan pakaian pantas pakai. Baju-baju bekas yang dikirim sebagai bantuan sering kali tidak layak pakai sehingga dibiarkan teronggok.

Relawan dari Sampoerna Foundation, Roy, menambahkan, pihaknya turut membantu pemulihan trauma terutama bagi anak-anak di pengungsian. Kepala Desa Sariharjo, Irsjadi mengaku sampai harus berutang untuk membantu para pengungsi. Selain menyediakan tempat pengungsian, tidak ada alokasi dana dari pemerintah desa bagi para pengungsi.

Di tengah beban berat akibat bencana Merapi, keramahan pengungsi ibarat oase yang menyegarkan. Penderitaan ternyata tak mampu menghilangkan kebaikan hati yang tertanam sebagai warga lereng Merapi. Mereka hanya perlu bersabar untuk menunggu waktu membangun kembali hidup baru selepas letusan Merapi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: