Tak Diupah, Tak Dikenal…

KOMPAS.com – Bencana sering mendatangkan paradoks. Di satu sisi penuh tangis pisah keluarga korban, di sisi lain menyatukan para relawan atas nama kemanusiaan.

Itu pula yang tampak pada kerja para relawan erupsi Gunung Merapi yang hingga kini belum jelas kapan akan berakhir.

Di tengah ancaman erupsi sewaktu-waktu, tim evakuasi jenazah senantiasa bersiap merayapi lereng Merapi. Seperti bermain petak umpet dengan maut.

Berbekal handy talky para relawan bergerak naik, menerobos kawasan rawan bencana, masuk keluar rumah-rumah di dusun yang luluh lantak. Sebagian di antaranya mengorek tumpukan abu vulkanik atau reruntuhan, mencari jenazah.

Begitu mendengar info Merapi mengeluarkan awan panas ke arah tim evakuasi, mereka bergegas menyelamatkan diri. Terkadang harus berlari. Padahal, luncuran awan panas lebih cepat dari mereka.

Meski berisiko, evakuasi terus dilakukan, tanpa bayaran dan sepi ucapan terima kasih. ”Apa yang bisa saya tolong akan saya bantu. Yang penting ikhlas menolong sesama,” kata anggota Grup 2 Kopassus Kartosuro, Sersan Dua Dwi Andi Hermawan, Rabu (10/11).

Dwi sudah bertugas di lereng Merapi sejak hari pertama letusan. Ia pernah bertugas di Bireuen, Nanggroe Aceh Darussalam, ketika tsunami pada tahun 2004.

”Sebenarnya banyak petunjuk lokasi jenazah, tetapi sulit ditemukan karena tertimbun. Tanah yang digali sangat panas,” ujar Dwi.

Tak hanya prajurit TNI, relawan juga berasal dari anggota Taruna Siaga Bencana (Tagana). Mereka sejak awal erupsi berada di ”titik panas”. Tagana Kabupaten Sleman membangun posko-posko pengungsian sebelum letusan kedua menghancurkan posko-posko tersebut.

Mereka pergi ke dusun yang terpapar awan panas, seperti di Dusun Kinahrejo dan Ngrangkah, Umbulharjo, Sleman. Ada di antara mereka yang tewas saat mengevakuasi, seperti Slamet Ngatiran (30). Pria yang baru menikah Juli 2010 ini meninggalkan istri yang tengah hamil 3 bulan.

Hingga kini ada empat anggota Tagana Sleman tewas saat bertugas. Satu di antaranya belum ditemukan. Mereka tewas saat menjaga logistik di posko.

Tak semua relawan berada di ”garis depan” bencana. Ratusan atau bahkan mungkin ribuan relawan tersebar hingga dapur umum. Tugas mereka tak kalah penting, memastikan pasokan logistik lancar.

Salah satunya, Muhammad Ibrahim Da Silva (45). Koordinator Tagana Jawa Timur itu bertugas di bagian logistik. Berbagi tugas dengan prajurit Detasemen Perbekalan TNI AD, ia dan teman-teman memasak untuk 13.000 pengungsi di Stadion Maguwoharjo dan sekitarnya.

Menghibur

Keberadaan relawan yang tersebar di banyak posko sungguh diperlukan. Ada relawan yang bernyanyi dan bermain dengan anak-anak pengungsi. Mereka memastikan dunia anak tak terenggut sekalipun di pengungsian yang menyesakkan.

Sebagian lagi bekerja di posko-posko kesehatan. Tak hanya mengobati penyakit fisik, tetapi juga psikis. Kini ada ratusan pengungsi yang tertekan secara psikologis. Dua pengungsi bunuh diri karena tak kuat menanggung tekanan bencana.

Pengungsi yang menderita stres diperkirakan lebih banyak daripada yang ditemukan dan dirawat. ”Jumlah relawan dan psikolog terbatas sehingga yang ditemukan sedikit,” kata psikolog posko psikologi pengungsian di Stadion Maguwoharjo, Amalia Dewiyanti.

Kerja 24 jam

Menjadi relawan menguras stamina. Misalnya, kerja relawan tim evakuasi hampir 24 jam. Kurang tidur dan kelelahan sering kali merayapi tubuh mereka. Oleh karena itu, menjaga stamina fisik sangat diperlukan. Obat-obatan, masker tambahan, sarung tangan, hingga susu dan minuman suplemen menjadi penting. Para relawan mengaku tidak lupa meminta dukungan doa dari keluarga.

Pasca-letusan pertama ataupun kedua kerja tim evakuasi belum tuntas. Masih banyak jenazah korban yang belum bisa ditemukan karena sulitnya medan evakuasi.

Letnan Kolonel (Inf) Jimmy Ramoz, Komandan Batalyon 21 Grup 2 Kopassus Kartosuro, mengatakan, lokasi evakuasi jenazah korban Merapi di bantaran Sungai Gendol, Kecamatan Cangkringan, Sleman, sulit ditembus. Rata-rata suhu sisa-sisa lahar dan awan panas masih di atas 50 derajat celsius.

Tak sedikit relawan menjadi korban. Tak jarang perlengkapan mereka minim, tanpa sepatu bot, masker, atau kacamata antidebu.

Namun, para relawan bekerja tulus ikhlas. Dalam kesunyian publisitas, mereka berjibaku atas nama kemanusiaan. Bukan demi uang ataupun popularitas.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: